4 Tewas Di Tempat Sampah Jakarta! Pengelolaan Sampah Gagal?
Tragedi 4 tewas di tempat sampah Jakarta, DPRD DKI desak evaluasi total pengelolaan sampah untuk cegah korban selanjutnya.
Jakarta dikejutkan oleh tragedi memilukan: empat orang tewas di Tempat Pengolahan Sampah Bantargebang. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas pengelolaan sampah di ibu kota. Kenneth dari DPRD DKI mendesak evaluasi total sistem pengelolaan sampah agar bencana serupa tidak terulang.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik pengelolaan sampah Jakarta, dan bagaimana langkah pemerintah menghadapi krisis ini? Simak kronologi lengkap, analisis risiko, dan reaksi pihak terkait berikut ini hanya di Hak Jelata.
Longsor Gunungan Sampah Di TPST Bantargebang
Peristiwa tragis terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, pada Minggu (8/3/2026) sore. Gunungan sampah longsor dan menimbun sejumlah orang yang sedang beraktivitas di kawasan tersebut, mengakibatkan empat orang meninggal dunia. Insiden ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk anggota DPRD DKI Jakarta.
Informasi dari Kepolisian menyatakan bahwa longsor terjadi secara tiba‑tiba saat tumpukan sampah yang sangat tinggi tidak lagi stabil. Peristiwa tersebut menimpa truk sampah, warung sekitar lokasi, serta para pekerja dan pemulung yang tengah melakukan aktivitas.
Empat korban yang tewas terdiri dari beragam latar belakang, termasuk sopir truk, pemulung, dan pedagang yang sedang berada di lokasi saat bencana terjadi. Dua orang lainnya berhasil selamat. Situasi ini membangkitkan perhatian serius tentang keamanan operasional di TPST terbesar di Jabodetabek.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kritikan Tajam Dari DPRD DKI Jakarta
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menyampaikan duka cita mendalam atas musibah ini. Ia menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kecelakaan, tetapi cermin dari kondisi pengelolaan sampah yang tak berkelanjutan dan berisiko tinggi.
Kenneth menekankan bahwa lokasi seperti Bantargebang saat ini menampung volume sampah sangat besar setiap hari, sehingga sistem pengelolaannya harus ditata ulang. Tanpa standar keselamatan yang jelas dan manajemen modern, risiko longsor hingga kebakaran dan bencana lingkungan akan terus mengintai.
Ia secara tegas meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan sampah mulai dari keamanan tumpukan hingga manajemen pekerja untuk mencegah terulangnya insiden mematikan seperti ini.
Baca Juga: Heboh! Kasus Fadia Arafiq: Dinasti Politik vs Hukum, Siapa yang Akan Menang?
Penyebab Dan Faktor Yang Memperburuk Situasi
Menurut keterangan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, longsor terjadi saat tumpukan sampah yang tinggi dan kondisi tanah menjadi sangat labil akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek pada siang hari. Kondisi ini membuat struktur gunungan sampah tidak stabil.
Longsor tersebut terjadi saat sejumlah truk mengantre membongkar muatan sampah, yang kemudian runtuh menimpa kendaraan dan bangunan kecil, termasuk warung kopi di area operasi TPST. Petugas di lokasi langsung melakukan proses evakuasi dan pencarian para korban.
Selain itu, sudut pandang masyarakat dan pakar lingkungan menunjukkan bahwa model pengelolaan open dumping seperti yang berlaku di Bantargebang telah mencapai batas maksimum kapasitasnya dan tidak lagi mampu menjamin keselamatan warga, pekerja, maupun kondisi lingkungan.
Desakan Modernisasi Sistem Pengelolaan Sampah
Kenneth menilai bahwa sistem landfill konvensional seperti yang diterapkan sekarang sudah usang dan tidak layak lagi untuk menampung sampah dalam jumlah besar. Ia menyerukan transformasi menuju pengelolaan sampah modern berbasis teknologi yang lebih aman dan berkelanjutan.
Beberapa saran strategis yang dikemukakan antara lain perluasan program pemilahan sampah dari sumbernya, hingga pengembangan fasilitas pengolahan seperti waste to energy dan refuse derived fuel (RDF). Upaya ini dinilai dapat mengurangi beban timbunan sampah.
Langkah lain adalah memperluas jaringan bank sampah di lingkungan warga serta edukasi pemisahan sampah organik dan anorganik agar volume sampah yang masuk ke TPST dapat ditekan secara signifikan.
Perlindungan Bagi Pekerja Dan Pemulung
Selain perubahan sistem pengolahan, Kenneth juga menyoroti keselamatan para pekerja dan pemulung yang bekerja di kawasan Bantargebang. Kelompok ini sering berada dalam kondisi kerja yang sangat berisiko tinggi tanpa perlindungan memadai.
Ia meminta pemerintah memastikan adanya alat pelindung diri (APD), sistem pengawasan keselamatan kerja, serta standar proteksi yang kuat untuk mereka. Hal ini penting agar para pekerja yang menjadi tulang punggung pengelolaan sampah tidak menjadi korban selanjutnya.
Kenneth menegaskan akan terus mengawal proses pembenahan hingga tuntas demi keselamatan masyarakat dan lingkungan. Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum reformasi besar dalam pengelolaan sampah Jakarta.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari bandung.kompas.com