Perjuangan Nelayan Perempuan Makassar, Bertaruh Nyawa Demi Beras
Di tengah gemuruh ombak dan teriknya matahari pesisir Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, hidup seorang perempuan bernama Hasnah (40).
Kisahnya adalah cerminan perjuangan tak kenal lelah demi sesuap nasi bagi keluarga. Setiap hari, ia mempertaruhkan nyawa melaut mencari kerang, sebuah profesi yang telah puluhan tahun digelutinya bersama sang suami, bahkan tak jarang membawa serta anak bungsunya.
Temukan informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Hak Jelata.
Perjuangan Harian Di Tengah Lautan
Hasnah memulai harinya di pagi buta, sekitar pukul 08.00 WITA, berlayar ke tengah laut menggunakan perahu kecil yang hanya muat tiga hingga empat orang. Ia dan suami mengarungi lautan lepas, mencari kerang hingga petang. Ketika air laut surut, jam operasional mereka bergeser ke malam hari, menandakan tiada henti perjuangan Hasnah di atas air.
Aktivitas melaut ini bukan hanya soal mengumpulkan hasil laut, melainkan juga pertarungan melawan kerasnya alam. Berjam-jam di laut, dengan terpaan angin dan ombak, adalah pemandangan biasa bagi Hasnah. Ketekunan ini menunjukkan dedikasi luar biasa seorang ibu yang tak gentar menghadapi tantangan demi kebutuhan dasar keluarganya.
Meskipun terlihat sederhana, pekerjaan mencari kerang ini memerlukan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Hasnah dan suami harus tetap fokus, mencari lokasi kerang yang produktif, serta memastikan keselamatan mereka. Ini adalah potret nyata tentang bagaimana sebagian masyarakat pesisir berjuang untuk bertahan hidup dari sumber daya laut.
Dilema Penghasilan Dan Biaya Operasional
Dalam sehari, Hasnah dan suami bisa mengumpulkan sekitar dua keranjang kerang. Hasil tangkapan ini kemudian dijual di pelelangan ikan oleh suaminya yang menggunakan sepeda. Penghasilan harian dari penjualan kerang berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 100.000, sebuah angka yang menunjukkan betapa kerasnya mereka bekerja untuk jumlah tersebut.
Namun, pendapatan ini seringkali habis untuk biaya operasional, terutama pembelian solar. Sekitar Rp 50.000 setiap hari harus dialokasikan untuk bahan bakar perahu, mengingat lokasi pencarian kerang yang semakin jauh. Harga solar yang mencapai Rp 10.000 per liter semakin mempersempit margin keuntungan mereka.
Kondisi ini menyisakan dilema bagi keluarga Hasnah. Setelah dikurangi biaya solar, sisa uang yang ada seringkali tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Hasnah bahkan harus membatasi uang jajan anak-anaknya di sekolah, sebuah pengorbanan yang berat namun harus ia lakukan demi menjaga dapur tetap mengepul.
Baca Juga: Prabowo Minta Kejaksaan dan Kepolisian Tak Kriminalisasi Rakyat Kecil
Keterbatasan Dan Solusi Adaptif
Dengan sisa uang yang minim, Hasnah harus cerdik mengatur keuangan. Biasanya, uang tersebut hanya cukup untuk membeli sekitar dua liter beras per hari. Jika lauk pauk tidak tersedia, ia akan memasak bubur sebagai hidangan utama untuk dimakan bersama keluarga, menunjukkan kemampuan adaptasinya dalam kondisi serba terbatas.
Ketika cuaca tidak bersahabat dan melaut menjadi terlalu berbahaya, Hasnah tidak lantas berdiam diri. Ia mencari pekerjaan serabutan di gudang-gudang kawasan industri Makassar. Pekerjaan seperti mengeringkan rumput laut dan teripang menjadi alternatif penghasilan, asalkan bisa membantu keluarganya untuk makan.
Situasi ini menyoroti kerentanan ekonomi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada kondisi alam. Tanpa jaringan pengaman yang kuat, mereka harus terus-menerus mencari cara untuk bertahan hidup, menunjukkan semangat juang yang tak pernah padam meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Harapan Akan Perhatian Pemerintah
Hasnah mengungkapkan bahwa jarak lokasi pencarian kerang semakin jauh akibat pembangunan pesisir Makassar. Dulunya, mereka tidak perlu terlalu jauh melaut, namun kini harus mengeluarkan biaya solar lebih banyak. Ini adalah dampak langsung dari modernisasi yang secara tidak langsung mengikis mata pencarian tradisional mereka.
Kondisi ini mendorong Hasnah untuk menyuarakan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian lebih. Ia berharap keluarganya tidak lagi harus hidup dalam keterbatasan yang ekstrem. Bantuan pemerintah diharapkan dapat meringankan beban hidup mereka, yang telah berjuang puluhan tahun tanpa banyak perubahan.
Harapan terbesar Hasnah adalah agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Salah satu anaknya bahkan tidak bersekolah, dan hanya satu yang berhasil menamatkan SMA. Ini adalah seruan tulus dari seorang ibu yang menginginkan kesempatan yang sama bagi anak-anaknya untuk meraih pendidikan dan kehidupan yang lebih layak.
Jangan lewatkan update berita seputaran Hak Jelata serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari kompas.id