Mbah Srinah, Hidup Sederhana dan Mandiri di Tengah Kebun Tunjungrejo

Bagikan

Di balik rimbunnya kebun di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Mbah Srinah (68) menjalani hari-hari tuanya sendiri.

Mandiri di Tengah Kebun Tunjungrejo

inggal di rumah kecil berdinding kalsiboard dan beratap asbes, ia hidup sederhana dan mandiri, bergantung pada kebaikan tetangga. Meski tanpa penghasilan tetap dan jauh dari anak-anaknya, nenek ini tetap tegar menghadapi kesendirian.

Simak informasi terbaru yang sedang viral dan terbaik lainnya hanya ada di Hak Jelata.

Mbah Srinah Hidup Sederhana di Tengah Kebun

Di balik rimbunnya kebun di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, berdiri sebuah rumah kecil berdinding kalsiboard dan beratap asbes yang mulai rapuh. Di sanalah Mbah Srinah (68) menjalani hari-hari tuanya sendiri, sederhana, dan nyaris tanpa keluhan. Ia bertahan hidup dari uluran tangan para tetangga yang peduli.

Saat senja turun dan gelap merambat perlahan, rumah kecil itu menjadi saksi bisu kesunyian hidup seorang nenek yang memilih bertahan jauh dari hiruk-pikuk desa. Angin malam dan suara jangkrik menjadi teman setia. Ketika hujan datang, doa sederhana pun terucap: semoga atap yang bocor tak runtuh malam ini.

Lahan tempat tinggalnya bukan miliknya, namun kebaikan hati pemilik kebun membuatnya boleh tinggal selama ia mau. Rumah itu pun bukan rumah permanen, hanya sekadar tempat berlindung agar ia tak sepenuhnya terpapar panas dan hujan.

Kehidupan Sehari-Hari Yang Sederhana

Setiap pagi, Mbah Srinah memulai hari dengan aktivitas sederhana. Ia menyapu halaman, menyiapkan sedikit makanan dari hasil kebun tetangga, dan merapikan rumah seadanya. Hidupnya jauh dari kemewahan, tetapi ia tetap bersyukur atas setiap hari yang dijalaninya.

Tidak adanya penghasilan tetap membuat Mbah Srinah sangat bergantung pada kebaikan tetangga dan masyarakat sekitar. Mereka sering membawa beras, sayur, atau sekadar menengok untuk memastikan nenek tersebut dalam kondisi baik. Hubungan hangat dengan tetangga menjadi penopang semangatnya.

Meski hidup sendiri, Mbah Srinah tampak tegar. Senyum sederhana dan kata-kata penuh keikhlasan kerap terdengar saat ia berbincang dengan siapa saja yang singgah. Kesendirian yang dijalani tidak membuatnya menyerah, tetapi justru membentuk kemandirian yang kuat.

Baca Juga: Pramono Anung Fokus Normalisasi 3 Sungai, Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Menjalani Kehidupan Sendiri

Menjalani Kehidupan Sendiri

Suaminya telah lama meninggal dunia, sementara dua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di luar desa, salah satunya di Jepara. Namun, Mbah Srinah memilih tidak ikut bersama mereka. Ia merasa tidak ingin merepotkan anak-anaknya, meski mereka tentu bersedia menampungnya.

“Mboten purun ngrepotke, teng mriki mawon,” ucapnya lirih, yang berarti “tidak mau merepotkan, di sini saja.” Kata-kata itu mencerminkan kemandirian dan rasa tanggung jawabnya, meski dalam kondisi serba terbatas.

Pilihan untuk tinggal sendiri di rumah sederhana di tengah kebun bukan sekadar kebiasaan, tetapi sebuah prinsip hidup. Ia ingin menjaga kemandirian dan tidak membebani orang lain, meskipun itu berarti hidup dalam kesendirian.

Harapan dan Dukungan Lingkungan Sekitar

Masyarakat Desa Tunjungrejo mengakui ketegaran Mbah Srinah dan berusaha memberikan dukungan sebisa mereka. Bantuan yang diberikan mencakup makanan, peralatan rumah tangga sederhana, hingga perhatian hangat agar nenek tersebut tetap nyaman.

Keberadaan Mbah Srinah menjadi pengingat bagi warga akan pentingnya kepedulian terhadap lansia dan mereka yang hidup sendiri. Meski sederhana, dukungan lingkungan sangat berarti bagi kelangsungan hidupnya.

Harapan Mbah Srinah pun sederhana: tetap bisa tinggal dengan aman di rumah kecilnya, diliputi rasa tenang dan tidak merepotkan siapapun. Kisahnya menjadi inspirasi tentang kemandirian, kesederhanaan, dan nilai kemanusiaan di tengah kehidupan desa.

Jangan lewatkan update berita seputaran Hak Jelata serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Utama dari regional.kompas.com
  2. Gambar Kedua dari Official Cahaya TV

Similar Posts